Mood: Sick
Lega rasanya habis trauma dumping di sini. Postnya tentu saja diprivate biar aku nggak keliatan miserable banget. Kekw...
Menulis memang ngebantu banget buat memaintain emosiku. Kalau disuruh milih antara curhat sama orang atau nulis, aku jauh lebih milih menulis.
Menulis itu bak terapi buatku. Kalau bukan karena nulis, mungkin aku tidak se-pro sekarang ini dalam mengendalikan diri dan mengendalikan emosi.
Makanya dari luar aku terlihat sabar. Lo nggak tau aja tulisanku kayak apa. Isinya sumpah serapah bro... 😆
Pasti pada kaget kalau tau aku itu dulu aslinya meski pendiem tapi sangat tempramental. Senggol bacok banget orangnya.
Beda banget kan sama imageku yang sekarang. Sabar, calm, tenang, soft spoken, nggak pernah bentak-bentak, nggak pernah marah-marah, tapi masih tetap nggak banyak cincong sih...
Aku jadi master of controling emotion. Karena apa? Apalagi kalau bukan karena brain dumping dengan cara menulis.
Dengan menulis aku menjadi bebas berekspresi tanpa judgemental dari orang lain. Tapi meski begitu aku masih berusaha untuk lebih menonjolkan hal-hal positif dibanding hal negatif.
Lebih milih fokus ke yang bagus-bagus dan memperbanyak bersyukur.
Tapi kan memang ada saat-saat di mana aku harus ngeluarin semua toxic yang ada di pikiranku biar aku nggak jadi ODGJ. Wkwkwk...
Makanya aku rekomen banget buat nulis-nulis. Nulis itu tidak eksklusif hanya untuk penghobi saja. Siapapun bisa nulis, buktinya bisa komplain di FB bikin status julit. Itu juga nulis kok namanya.
Tapi cobain tips ini deh... Biar statusmu menjadi hal yang berguna buatmu di masa depan.
Nggak semua orang saat mati bisa meninggalkan nama seperti para pahlawan jaman dulu. Karena let's be real deh, orang-orang bisa cepat banget move on saat kita meninggal. Kita akan terlupakan... Bahkan dalam hitungan jam.
Buat orang yang bukan siapa-siapa sepertiku ini, aku memang tidak bisa meninggalkan nama saat mati, dan aku akan segera terlupakan bagai debu. Tapi aku masih bisa meninggalkan jejakku di dunia ini dengan tulisan-tulisanku.
Memang ada yang namanya foto untuk dikenang. Tapi dengan tulisan, buah pikirankupun bisa tetap tertinggal di dunia ini meski orangnya sudah pindah alam. Wkwk...
Raga bisa mati, tapi buah pikiran akan tetap ada selama kita merekamnya. Dan media untuk menyimpan buah pikiran yang bersifat evergreen dari masa ke masa adalah tulisan.
Tak peduli hidup di era mana, tulisan akan tetap dan akan selalu relate.
Buah pemikiran tidak bisa mati. Dia akan tetap hidup dan kekal. Syaratnya hanya satu. Bisa didiscover. Dan caranya adalah dengan ditulis.
Well... Orang mungkin tidak akan mau tau tentang tulisan kita karena mereka sibuk dengan hidupnya masing-masing. Nggak penting juga buat mereka pedulikan. Lagian siapa kita (aku) gitu lho? Pahwalan nggak, orang sakti nggak, orang berpengaruh juga nggak.
Tapi pasti ada satu dua orang yang peduli. Entah anak, cucu, cicit atau bahkan orang tak dikenal yang kebetulan menemukan jejak kita.
Kita mungkin tidak bisa meninggalkan nama dan akan terlupakan begitu saja saat kita tiada. Tapi kita masih bisa menciptakan misteri untuk ditemukan di masa depan dengan cara berkomunikasi lewat tulisan yang bisa melintasi jarak dan waktu.
Dan bahkan melintasi dimensi... Karena saat aku meninggoy, aku sudah berada di dimensi lain. Bukan di tempat asal saat aku membuat tulisan-tulisan itu.
Nggak percaya? Coba lihat semua kitab-kitab suci, bahkan dari semua agama. Yang nulis bukunya berasal dari era mana, dan sekarang entah sudah berada di mana. Tapi sampai sekarangpun kita masih bisa membaca tulisan-tulisan tersebut.
Coba aja bayangin, itu tulisannya berasal dari jaman para Rsi dan Nabi lho... Jaman saat orang (katanya) masih pada bisa terbang tanpa helikopter. Itu di jaman apa woy, dan sekarang udah jaman apa. Ribuan tahun bro itu jaraknya.
Tapi jaman itu nggak ada apa-apanya bagi sebuah tulisan.
Atau yang simple-simple aja deh... Kita yang sekarang bahkan bisa berkomunikasi dan ngasi pesan untuk kita di masa depan.
Tulisan itu seperti pintu ajaib dan mesin waktu. Bisa jadi jalur komunikasi antara diri kita yang ada di masa lalu, di masa sekarang dan di masa depan tanpa harus menguasai ilmu kebathinan atau tele tele apalah telepati atau apa itu namanya. Wkwk... Bukan telepati ya, aku ngasal aja biar nggak terlalu serius. Pasti namanya telegram. *gubrak
Gimana gimana? Hebat kan? Inter stellar banget idenya. Aku jadi serasa kayak elon musk ngomong kayak gitu. Hahahahaha wlwkwkwlkwkdbjdjj...
Well itulah keajaiban menulis. Terkesan receh dibanding video youtube, dll. Tapi sebenarnya sangat mengagumkan.
Aku juga pengen bilang video juga gitu. Bahkan kita bisa liat planet lain lewat videonya NASA. Tapi masalahnya video baru cuma ada di era ini.
Nggak ada tuh video yang ngeliatin aku kehidupan di ribuan tahun yang lalu seperti yang diperlihatkan oleh kitab-kitab melalui tulisan.
Jadi yaaa aku nggak bisa compare antara video dan tulisan. Ku rasa punya porsinya masing-masing.
Posted at 9:08 PM

BACK TO BLOG PAGE
Leave a comment