Update tentang Kesehatan Mental dan Fisik

Mood: Better

Sorry guys! I've been MIA (Missing in Action) for several days and guess what, itu karena aku didatengin sama si anjer demam laqnat itu lagi.

Sebenarnya demamnya itu bolak-balik. Tapi yang nggak mau-mau ilang itu ya sakit kepalaku ini. Selama 4 hari berturut-turut nggak ngilang sama sekali barang sedetikpun. Batuk sih nggak parah-parah amat, tapi tetep aja rasanya nggak enak kan?

Dan pas tanggal 26 itu, pas awal-awal aku sakit aku juga sempat kena AC sama angin malem lagi  karena aku ada jadwal ke psikiater. Jadi setelah itu sakit fluku makin parah.

Aku nggak buka hp selama sekitar 3 hari. Pas buka HP tau-taunya view video YTku yang terakhir udah tembus 200an aja. Padahal subscribernya aja masih 11 ekor. Wkwkwk... Rationya nggak sesuai. Dan nggak nyangka aja sih video yang musiknya iseng-iseng aja ku buat untuk Roleplay, ternyata malah ada aja yang suka.

Btw kata ibuk ini namanya gelas kaget. Soalnya ada gambar orang kagetnya. Wkwkwk... Ibuku ngerawat aku selama aku sakit dan setiap hari selalu dikasi teh madu pakai gelas ini.

Mana ada kata-kata monggo diseruput yang penting hepiii... lagi. Wkwkwk... Ngabrut ngakak brutal. My mom is the best. Makasi ibuk. <3

Pengalaman Hipnoterapi

Baiklah sekarang aku mau cerita tentang pengalaman hipnoterapi yang aku alami untuk pertama kalinya seumur hidupku.

Agak lebay dikit ya soalnya aku orangnya super skeptis sama yang gini-ginian. Aku awalnya udah ketawa-ketiwi terus sama wi di mobil. Ku kira pasti bakalan cringe deh, apakah aku bakalan di 'Tataaap mata ojaann.. Bulaat bulaat bulaaaaattt... Waduh?!? 'in? Atau bakal disuruh tidur pake tisu kayak si Uya Kuya?

Pokoknya aku udah nggak begitu ekspek buat diseriusin, ditambah dengan kondisiku yang lagi batuk, pilek, meler, sakit pelengan dan terus-menerus ngirup inhaler. Pokoknya aku mikirnya udahlah jalanin aja, yang penting ikutin aja dulu dan yakin. Kan ini di klinik, bukan di dukun. Wkwwk...

Tapi pas sesi dimulai, belum juga lama, pak dokter psikiaternya baru juga nyugesti sebentar aku malah udah mau ketiduran aja ajg. Untung dokternya langsung bilang, 'ini bukan tidur seperti tidur di rumah ya,' wkwk langsung auto nyadar dong aku bjir.

Intinya aku tuh disugesti pakai musik, DI HP COY! Mana musiknya Gus Teja lagi. Wkwkwk... Receh banget kan kedengerannya? Tapi ajaibnya semua itu masuk di aku yang kebal dan kaku sama yang gitu-gituan ini!

Mulai saat itu aku sungkem sama Pak Gusti Rai (nama psikiaterku). Berkat beliau aku jadi tercerahkan. Aku nggak berani lagi ngeremehin yang namanya hipnoterapi soalnya efeknya di aku bener-bener kerasa.

Sampai aneh dan ajaibnya ya, aku yang semula flu berat, semua itu entah kenapa langsung hilang sepanjang sesi hipnoterapi.

Sakit kepala terbang entah kemana, batuk yang tadinya nggak diem-diem langsung berhenti, hidung yang tadinya meler langsung plong. Dan begitu selesai sesi, semua penyakitku balik lagi dong... Wkwkwk... Inilah yang dinamakan aneh tapi nyata.

Aku sih nggak mau spill secara detail keseluruhan proses hipnonya. Tapi intinya aku dibawa ke alam bawah sadar dulu. Rasanya tu kayak setengah tidur, antara tidur tapi masih bisa dengerin suaranya Pak Gusti dan suara musik pengantar.

Btw musiknya dirubah terus sesuai isi sugesti.

Di awal, setelah aku memasuki alam bawah sadar, aku diajak untuk merecall semua kejadian buruk, semua trauma, penderitaan, kemarahan, kekecewaan, kesedihan dan semua emosi negatif yang aku rasakan dan aku pendam selama ini.

Sembari disuruh membayangkan orang yang paling dikangenin saat itu yang sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dan yang muncul di hadapanku saat itu adalah kak teba (bapak dari bapakku).

Saat itulah air mataku mengucur nggak bisa dibendung. Benar-benar langsung keluar sejadi-jadinya tanpa bisa terkontrol. Sampai sesenggukan jig! Maaf bahasaku agak terlalu excited hehe... Maklum pengalaman pertama yang semula nggak percaya jadi percaya.

Pak Gustinya terus mensugesti dengan menggunakan hitungan 1 ke 5 dan pakai jentikan jari kayak pesulap gitu, anjir. Tapi sumpah beneran ngefek banget itu.

Lalu setelah seluruh emosi negatifku diubek-ubek dan sudah keluar, sekarang aku disuruh membayangkan orang-orang yang pernah menyakiti aku dan yang membuat aku trauma.

Aku disuruh membayangkan dengan jelas wajah mereka satu per satu dan semua kata-kata jelek yang pernah mereka katakan ke aku.

Di sana aku disuruh menumpahkan semua kemarahanku dengan berteriak di dalam hati. Aku disugesti untuk meneriakkan bahwa aku tidak layak untuk diperlakukan seperti itu, aku tidak layak mendapatkan itu semua.

Habis itu, aku disugesti lagi. Dan kali ini aku disugesti untuk memaafkan mereka, bukan karena mereka tidak salah. Yang salah tetaplah salah. Memaafkan bukan berarti perbuatan mereka dibenarkan. Hanya saja memaafkan itu untuk melepaskan aku dari balutan penderitaan ini, yang tidak layak aku dapatkan.

Nah, di momen inilah sugesti itu nggak masuk. Ya namanya juga trauma dan dendam yang sudah disimpan belasan tahun lamanya ya, nggak bisa dihilangkan hanya dengan kata maaf di satu kali sesi hipnoterapi yang bahkan orang yang menyakitiku saja belum pernah mengatakan kata maaf itu sendiri secara langsung.

Jadi sugesti yang ini masih mental dan nggak masuk ke aku karena aku masih mempunyai rasa tak terima dan tidak iklas untuk memaafkan orang yang minta maaf aja nggak, gimana bisa maafin?! Sorry to say, hatiku tidak sebesar itu Ferguso.

Setelah itu mulai tuh transisi dari emosi negatif dibawa ke yang hepi-hepi sekarang nih...

Aku disuruh untuk mengingat kapan aku merasakan kebahagiaan dan kapan aku merasa bebas menjadi diriku sendiri. Aku disuruh untuk mengingat itu semua dengan jelas, pakai hitungan dan jentikan jari.

Disuruh mengingat sampai suasana sekitar, orang-orang yang ada pada saat itu, aroma, cuaca, dll. Lalu semakin keras aku mengingatnya, semakin aku diyakinkan bahwa itulah aku yang sesungguhnya. Itulah jati diriku yang sesungguhnya.

Untuk menyimpan itu semua, aku disuruh untuk mengepalkan tangan kanan. Semakin ku mengingat semua kebahagiaan itu, semakin erat juga kepalan tangan kananku.

Dan mulai sekarang, aku ditanamkan setiap kali aku merasa down, kepalkan saja tangan kanan dan recall kembali diriku yang bahagia itu untuk bisa merasakannya lagi.

Dan akhirnya sesi diakhiri dengan bersyukur dan kembali ke alam masa kini. Wkwkwk...

Closingannya itu lho, mantap betul. Dari bernangis-nangis penuh luka dan amarah, sampai senyum lebar, lega dan bahagia.

Aku yang awalnya diem-diem bae, pasrah dan ogah-ogahan langsung bilang ke Pak Gusti kalau ini pertama kalinya aku ngerasa kayak gini. Jadi lega banget rasanya.

Sumpah cuk! Aku yang mengidap hampir semua gangguan mental aja bisa jauh enakan dengan hipno terapi.

Aku yang punya kombo depresi berat, trauma berat, anxiety disorder sama panic attack ini aja bisa merasa lebih baik habis dihipnoterapi, apalagi kalian yang masih di tahap stress.

Ini satu juta paling worth di dalam hidupku. Nggak nyesel satu penipun!

Kesehatan Mental Sama Pentingnya dengan Kesehatan Fisik

Asli kalau orang yang gila, misalkan aja sebelumnya cepat ditangani, dia pasti nggak jadi gilanya.

Atau orang yang bunuh diripun kalau orang-orang di sekitarnya aware, sebetulnya masih bisa diselamatkan.

Akupun kalau lambat lagi sedikiiit saja ditangani, mungkin sekarang ini aku udah pindah alam. Kekw... Untung wi tu cepet bawa aku ke psikiater. Amit-amit semoga aku nggak pernah punya pikiran seperti itu lagi.

Apakah kalian tau menurut data statistik,  Bali itu memiliki tingkat orang bunuh diri terbanyak di Indonesia. Bahkan dua kali lipat dari provinsi lain.

Soalnya selain tekanan sosial yang keras, orang-orang di sini juga memiliki kecenderungan untuk meremehkan stress.

Kalau orang lagi ngeluh stress pasti jawabannya 'alah mare monto','nak mule keto, idup adane', 'konyang nak e stress, sing je didian stress', 'kudyang men tanggung jawab adane'.

Nah kelas-kelas kata-kata meremehkan seperti itulah yang dinormalisasikan yang justru menjadi pemicu orang pengidap depresi untuk semakin menjadi-jadi dan akhirnya mengambil jalan pintas dengan cara bundir.

Di sini orang stress itu dianggap imannya atau mentalnya nggak kuat. Padahal sama seperti penyakit fisik, penyakit mental itupun nggak ada bedanya. Sama-sama penyakit. Hanya saja orang malah menerapkan standar ganda pada kesehatan fisik dibanding kesehatan mental. Mentang-mentang kesehatan mental tak kasat mata.

Contohnya ya... Kalau temen lagi patah tulang kaki nih... Pas masuk kerja pasti ditolong kan, dipapah, ditanyain kamu nggak apa-apa? Perlu bantuan? Dll.

Coba orang yang lagi depresi ngeluh, malah dikatain 'behhh manja, mare monto gen'. Lah coba orang yang patah kaki itu kamu katain 'beh manja, mare monto gen! Jalanang je ibe e'. Kasar nggak namanya? Bikin sakit hati nggak? Sakit hati dong...

Itulah yang dirasakan orang-orang depresi yang dikatain seperti itu saat yang mereka butuhkan sebetulnya adalah support. Or the least you can do is just leave them alone and don't judge. Just shut the fvk up.

Jika orang demam perlu dibawa ke dokter, orang yang punya penyakit mentalpun perlu dibawa ke dokter.

Ada yang nyolot, 'itu kan karena pola pikirmu aja. Coba ubah pola pikirmu dulu. Kamu tu kurang iman sama bersyukur aja!'.

Nah coba sekarang orang yang sakit demam kamu suruh ubah pola pikirnya, katain gini ke dia ,'itu pola pikirmu aja tuh yang bikin kamu demam. Coba ubah pola pikirmu, dinginkan badanmu. Atau melukat sana. Kurang sembahyang kamu'. Sembuh nggak dia orang demam disuruh melukat? Kan dajal? Ya nggak? Wkwkwk...

Bukan mengatakan sembahyang itu nggak bagus ya. No. Bukan itu konteksnya. Konteksnya adalah selain sembahyang, kita juga perlu yang namanya pertolongan profesional.

Makanya, kita punya nalar ya dipakai. Itu makanya ada yang namanya ilmu psikologi, ada yang namanya dokter khusus kejiwaan.

Kalau problem-problem mental itu hanyalah sebatas ilusi hanya karena dia tidak terlihat, kenapa sampai ada yang namanya ilmu kejiwaan dan dokter jiwa?

Mulai sekarang jangan ngeremehin orang stress. Meskipun itu baru tahap stress atau tahap awal orang depresi, minimal kasi dia support.

Jangan jadi orang judgmental. Inilah kecenderungan kita ya... Suka judgmental sama sesama. Giliran ditinggah bunuh diri, dibilangnya orang itu kurang iman. Lingkungan itu pengaruh banget lho...

Please buka mata. Sayangi mentalmu dan orang-orang sekitarmu. Kalau anti obat-obatan, ya nggak apa-apa, tapi tolong cari alternatif apapun yang cocok buat meringankan bebanmu.

Ingat jangan menerapkan standar ganda. Fisik dan mental sama-sama penting. Kalau cuma fisik aja yang penting, kok bisa ada miliarder sampai bunuh diri? Bahkan sampai sekelas calon dokter spesialispun bisa bunuh diri.

Kesehatan mental itu nyata adanya, meski tidak bisa dilihat. Tapi dia bisa dirasakan. Pleaseee don't ignore it.

Akupun saat ini masih belum dikatakan sembuh. Tapi at least aku sudah nggak punya suicidal thoughts lagi, thanks to my husband and my psychiatry. Itu fase yang paling bahaya tuh... Bukan nakut-nakuti, hanya mengingatkan.

Masalahnya trauma tidak sesimpel itu. Trauma itu kayak alergi yang nggak ada obatnya. Obat hanya bisa meringankan tapi tak bisa menyembuhkan. Satu-satunya cara untuk sembuh adalah dengan cara menghindari pemicunya.

Kalau dipaksain untuk menghadapi pemicunya, itulah yang membuat mental kita jadi rusak dan kita lama kelamaan menjadi kehilangan jati diri.

Yang pelik adalah, gimana kalau kita terpaksa harus hidup dengan hal-hal yang memicu trauma itu? Entah itu orang, benda, suasana, tempat, suara-suara atau apa saja. Kan susah ya...

Makanya tolong jangan jadi orang yang judgemental. Kamu tidak tau apa saja yang sudah dialami oleh orang tersebut jadi alangkah baiknya kalau kita rem mulut kita dari nyinyirin orang. Kita nggak pernah tau apakah kata-kata kita itu bisa menjadi trigger dari stress seseorang.

Terus kalau ada yang berkata, 'emangnya kamu doang yang menderita? Aku juga menderita. Semua orang menderita.'

Lah... Makanya. Di sanalah perlunya kita saling support. Jangan saling menjatuhkan sesama atau bahasa balinya nyempulungin.

Alangkah baiknya kalau kita bersinergi, minimal saling menghargailah... Setiap orang punya haknya masing-masing untuk merasakan kebahagiaan.

Please respect that. Don't even bother to control people's life. If they set boundaries, just respect that. Easy as that.

Sekian Swar bersua. Semoga tulisanku ini kalian pertimbangkan. Jangan ditelan mentah-mentah. Tapi pikirkan saja baik-baik.

Posted at 5:45 PM

 

EXPLORE MORE

     

Comment

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


 
BACK TO BLOG PAGE